Memahami Sejarah Manajemen | Dasar-Dasar Manajemen

MPI Press - Dalam dinamika kehidupan modern, organisasi telah menjadi pilar utama yang membantu mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia, baik secara individu maupun kolektif. Keberadaan berbagai bentuk organisasi ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari naluri dasar manusia sebagai makhluk sosial. Seiring dengan perkembangan peradaban, muncul sebuah disiplin yang memastikan organisasi tersebut berjalan sesuai jalurnya, yaitu manajemen.

Meskipun studi sistematis tentang manajemen dianggap sebagai fenomena yang relatif baru, praktiknya sendiri sebenarnya sudah setua sejarah manusia itu sendiri. Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan panjang manajemen, mulai dari masa kuno hingga lahirnya teori-teori modern yang kita kenal sekarang.

Hakikat Manusia dan Organisasi

Dasar dari manajemen berakar pada konsep manusia sebagai zoon politicon atau makhluk yang hidup berkelompok. Menurut pandangan para ahli, manusia senantiasa berupaya untuk bertahan hidup (survival) dengan membentuk bermacam-macam organisasi guna memenuhi aneka macam kebutuhan mereka.

Ketika seseorang menjadi bagian dari sebuah organisasi, muncul konsekuensi berupa tuntutan penggunaan sumber daya, seperti uang, waktu, dan tenaga kerja. Agar penggunaan sumber daya ini tidak terbuang sia-sia, maka diperlukan pengelolaan yang efektif dan efisien. Inilah titik di mana fungsi manajemen menjadi krusial. Saat ini, kita melihat manajemen dipraktikkan secara luas di berbagai sektor, mulai dari bisnis, rumah sakit, sekolah, universitas, pemerintahan, industri, hingga perbankan.

1. Era Awal: Praktik Manajemen di Peradaban Kuno

Jauh sebelum manajemen diakui sebagai disiplin ilmu ilmiah, peradaban-peradaban besar di masa lalu telah menunjukkan kemahiran luar biasa dalam mengelola urusan publik dan militer.

  • Mesopotamia dan Mesir Kuno: Catatan sejarah menunjukkan bahwa di wilayah Barat Mesopotamia dan melalui tulisan-tulisan orang Mesir Kuno sekitar tahun 1200 SM, sudah terdapat pengetahuan serta penggunaan manajemen, terutama dalam mengelola persoalan politik. Pembangunan monumen raksasa dan pengelolaan irigasi pada masa itu mustahil dilakukan tanpa adanya koordinasi yang matang.

  • Yunani Kuno dan Romawi: Sejarah klasik dari Yunani dan Romawi memberikan bukti kuat mengenai penerapan pengetahuan manajemen dalam berbagai aspek, seperti pengelolaan persidangan di pengadilan, praktik pemerintahan, organisasi tentara, hingga kesatuan usaha kelompok dan pelaksanaan otoritas.

  • Organisasi Gereja: Salah satu contoh paling konsisten dalam sejarah adalah organisasi gereja. Lembaga ini telah menggunakan struktur organisasi berskala dunia dengan menyusun otoritasnya sendiri, yang menjadi bukti nyata penerapan manajemen sistematis jauh sebelum Revolusi Industri.

Hingga pertengahan abad ke-18, prinsip-prinsip manajemen terus digunakan dan dikembangkan untuk meningkatkan hasil produksi masyarakat.

2. Era Manajemen Ilmiah (1900-1920): Revolusi Produktivitas

Memasuki abad ke-20, manajemen mulai dipelajari secara sistematis sebagai sebuah ilmu. Tokoh sentral yang mengawali gerakan ini adalah Frederick Winslow Taylor (1856-1915), yang secara luas dianggap sebagai Bapak Manajemen Ilmiah.

Kontribusi Frederick Winslow Taylor

Taylor adalah seorang insinyur dan industrialis Amerika yang memiliki latar belakang praktis yang kuat. Ia memulai kariernya di Midvale Steel Works di Philadelphia sebagai juru mesin pada tahun 1878 hingga mencapai posisi Chief Engineer. Pengalamannya di lapangan membuatnya menyadari bahwa masalah utama dalam produktivitas industri sering kali berakar pada sikap acuh tak acuh dari pekerja maupun manajer.

Ketidakpedulian ini muncul karena kedua belah pihak tidak memiliki standar yang jelas mengenai apa yang disebut sebagai "kerja layak untuk setiap hari kerja" dan "upah layak untuk setiap hari kerja". Taylor berargumen bahwa produktivitas adalah kunci untuk mencapai upah yang lebih tinggi bagi pekerja sekaligus laba yang lebih besar bagi pemilik perusahaan.

Pada tahun 1911, ia menerbitkan karya monumentalnya, "The Principles of Scientific Management", yang memuat prinsip-prinsip fundamental sebagai landasan pendekatan ilmiah dalam manajemen. Beberapa pemikiran utama Taylor meliputi:

  1. Seleksi dan Pelatihan: Pekerja harus dipilih secara hati-hati dan cermat berdasarkan keahliannya, kemudian diberi pelatihan yang memadai agar bisa bekerja seoptimal mungkin.
  2. Penyelarasan Kepentingan: Harus ada harmoni atau keselarasan antara kepentingan pekerja, manajer, dan pemilik perusahaan agar tujuan bersama dapat tercapai.

Pengembangan Teori Taylor

Teori Taylor tidak berhenti pada dirinya saja, tetapi dikembangkan lebih lanjut oleh para pengikutnya:

  • Henry L. Gantt: Seorang insinyur mesin yang terkenal karena mengembangkan sistem perencanaan yang dapat diawasi secara efektif (yang kini kita kenal sebagai Gantt Chart).
  • Frank dan Lilian Gilbreth: Pasangan ini memberikan kontribusi besar pada prinsip manajemen ilmiah, di mana Lilian Gilbreth bahkan mendapat julukan sebagai "First Lady of Management".

(Informasi tambahan di luar sumber: Frank Gilbreth fokus pada studi gerak untuk efisiensi fisik, sementara Lilian membawa perspektif psikologi ke dalam manajemen, yang menjadi cikal bakal manajemen sumber daya manusia modern).

3. Lahirnya Manajemen Modern: Pendekatan Henri Fayol

Jika Taylor fokus pada tingkat operasional dan teknis (lantai pabrik), maka Henri Fayol, seorang industrialis berkebangsaan Prancis, membawa perspektif yang lebih luas dan organisasional. Fayol dikenal sebagai Bapak Manajemen Modern.

Dalam bukunya yang fenomenal, "Administration Industrielle et Generale", Fayol merumuskan bahwa aktivitas dalam sebuah organisasi atau industri dapat dibagi menjadi enam kelompok utama:

  1. Teknikal: Berkaitan dengan produksi.
  2. Komersial: Meliputi aktivitas membeli, menjual, dan menukarkan.
  3. Finansial: Fokus pada pencarian modal dan pemanfaatannya secara optimal.
  4. Kepastian (Keamanan): Perlindungan terhadap harta kekayaan dan personel.
  5. Akunting: Pencatatan keuangan dan statistik.
  6. Manajerial: Ini adalah inti dari teori Fayol.

Lima Fungsi Manajemen Fayol

Fayol menekankan bahwa fungsi manajerial terdiri dari lima elemen utama yang masih menjadi standar pengajaran manajemen hingga hari ini, yaitu:

  • Perencanaan (Planning): Menentukan arah dan langkah masa depan.
  • Pengorganisasian (Organizing): Mengatur sumber daya untuk melaksanakan rencana.
  • Memimpin (Commanding): Memberikan arahan kepada bawahan.
  • Mengkoordinir (Coordinating): Menyatukan semua aktivitas agar selaras.
  • Mengawasi (Controlling): Memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana.

Pentingnya Memahami Sejarah Manajemen

Sejarah manajemen menunjukkan sebuah evolusi yang konsisten dari praktik-praktik intuitif di zaman kuno menuju pendekatan yang berbasis data dan sistematis di era modern. Transformasi ini didorong oleh kebutuhan manusia untuk mencapai efisiensi maksimal dalam organisasi yang semakin kompleks.

Pesan inti yang dapat kita ambil dari para pemikir seperti Taylor dan Fayol adalah bahwa keberhasilan sebuah organisasi—baik itu bisnis berskala besar, institusi pendidikan, maupun pemerintahan—sangat bergantung pada bagaimana sumber daya manusia dan material dikelola melalui fungsi-fungsi manajemen yang tepat. Dengan memahami akar sejarah ini, para manajer masa kini dapat mengambil pelajaran berharga untuk menghadapi tantangan di masa depan.


Semoga bermanfaat.

Sumber:

Dr. Candra Wijaya & Muhammad Rifa’i, DASAR-DASAR MANAJEMEN: Mengoptimalkan Pengelolaan Organisasi Secara Efektif dan Efisien, (Medan, PERDANA PUBLISHING), 2016

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama